Kemoterapi Pertama

Hi,
sebelumnya saya mau bilang dulu ya, kalau yang saya tulis dipostingan ini bukan bertujuan untuk "dagang derita" ke muka publik. I just wanna share sesuatu yang sedang saya alami, dan mungkin aja ada orang diluar sana yang merasa senasib dengan saya, sehingga merasa nggak sendirian.

Baiklah, kisah ini dimulai ketika saya dan dia..., eh stop! Ini bukan cerita roman! Namun kisah mengenai bagaimana saya yang anti, takut, parno sama yang namanya rumah sakit, namun harus--mau gak mau bersahabat dengan si rumah sakit itu.

Memang, bukan saya yang sakit-sakitan sehingga mengharuskan dirawat dirumah sakit. Melainkan bapak, yang sudah sejak awal tahun ini, tepatnya bulan Maret mencari-cari penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuhnya hingga menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan.  Sebenarnya, ibuk yang kebetulan juga seorang tenaga medis sudah mulai curiga dengan gejala-gejala yang dialami sakitnya bapak. Terutama penurunan berat badan yang drastis. Ibuk dan dokter-dokter teman ibuk menduga gejala tersebut mengarah ke kanker. Tapi karena berusaha positif thinking dulu,  mereka ndak berani mengambil kesimpulan tersebut diawal.

Mulanya, bapak mengeluh perutnya kesakitan. Dokter mengira sakit tersebut hanya seputar sakit maag kronis. Berbagai obat lambung yang nyasarnya buat nyembuhin penyakit maag diberikan ke bapak. Dari obat yang saya sendiri familiar dengan obat terseut(karena kebetulan juga perut sering bermasalah karena maag sehingga beberapa diantaranya saya juga pakai), hingga obat-obatan yang saya sendiri nggak ngerti. Yang jelas dokter sudah meresepkan obat-obatan yang terbaik. Saya lupa tepatnya bulan apa hingga akhirnya bapak diketahui mengidap tumor ganas. Tumor tersebut letaknya dekat dengan lambung dan pankreas. Setelah diketahui terdapat tumor, maka dilakukanlah operasi. Kami, termasuk bapak sendiri berharap sekali dengan jalan operasi tersebut tumor bisa diangkat. Kala itu saya dan ibuk mengantarkan bapak masuk ke depan ruang operasi. Sumpah, kaki lemas ketika melihat seorang bayi mungil juga sedang mengantri untuk operasi. Dalam ruangan tersebut berkas-berkas pasien dicek ulang, termasuk surat persetujuan keluarga untuk dilakukan operasi. Selanjutnya pasien dibaringkan ke kasur yang akan digunakan untuk operasi.
Kembali ke bayi mungil tadi. Saya melihat ibu dari bayi tersebut menggendongnya sembari menenangkan bayinya yang mulai menangis dan seakan mengetahui hendak "diapa-apakan" oleh orang asing alias dokter. Tak berapa lama datanglah seorang dokter muda cakep yang ternyata adalah dokter anestesi, menyuntikkan obat bius melalui selang infus si bayi. Beberapa detik kemudian bayi tersebut langsung tak sadarkan diri, lalu berpindah tangan ke dokter anestesi untuk dibawa masuk ke ruang operasi. Saya benar-benar tak kuasa menahan tangis. Air mata meleleh juga meski dengan sekuat tenaga menahan. Saya merasa kasihan, ndak tega dengan bayi itu. Sebagai seorang perempuan naluri keibuan saya (meski masih kana-kanak begini) menjadi tergugah. Melihat ibu dari bayi tersebut sekuat tenaga menahan tangis meski tak dipungkiri mata dan hidungnya terlihat sembab. Ia pasti sangat khawatir. Kalau saya jadi dia mungkin sudah nangis meraung-raung ndak tega bayinya diapa-apain diruang operasi. Setelah sekian menit kemudian giliran saya dan ibuk yang harus keluar ruangan meninggalkan bapak untuk dioperasi. Kala itu sekitar pukul 11, hari Jumat. Karena saya sendiri takut ketika merasakan suasana di depan ruang operasi, saya menanyakan sesuatu kepada bapak. Mungkin saja dia juga takut, atau bahkan deg-deg an hendak dioperasi. "Pak, wedhi ora?", tanyaku kepadanya dengan bahasa jawa. Dia dengan nada bicara yang mantab menjawab bahwa ia tidak takut. Singkat cerita, setelah menjalani operasi yang memakan waktu kurang lebih 5 jam, ternyata tumor yang berada di tubuh bapak tidak bisa diangkat dikarenakan sudah lengket ke lambung dan pankreas. Walhasil hanya biopsi atau pengambilang sampel jaringan yang dilakukan.
Kemudian, akhir September lalu, bapak menjalani kemoterapi yang pertama. Oya, sebenarnya bapak juga mengidap penyakit-penyakit lain sehingga seringkali kami harus bolak-balik menginap dirumah sakit lantaran HB bapak selalu menurun bahkan sebelum dilakukan kemoterapi. Hal itu dikarenakan terjadi pendarahan dilambung bapak sehingga mencari donor darah hidup maupun ke PMI sudah menjadi rutinitas. Bahkan pernah tengah malam dengan terkantuk-kantuk, saya ditemani mas pacar mencari darah di PMI Kotagede.  Dan subhanallah sekali ternyata prosedur "meminta" darah ke PMI membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk menunggu darah diperiksa. Plus, ternyata "meminta" darah ke PMI itu tidak gratis!! Donornya gratis, mintanya bayar. Satu kantong darah PRC dihargai sekitar 300an ribu rupiah. Sedangkan untuk menstabilkan HB  bapak hingga minimal ke angka 10 membutuhkan rata-rata 4 kantong. Wuahaa untungnya kami ikut BPJS, sehingga biaya pembelian darah tercover BPJS.

Lanjut...
Ketika hendak kemoterapi, dokter menyarankan untuk memilih obat kemo yang 1x kemo 8 juta. Sedangkan kemo untuk bapak direncanakn 8x. Jadi 8 juta dikali 8= 64 juta rupiah. Bagi keluarga kami jumlah tersebut terlalu berat. Sehingga akhirnya diputuskanlah menggunakan obat kemoterapi yang dicover oleh BPJS, meski kualitas obatnya dibawah dari yang ketika kita bayar sendiri tadi. Memang ya, ternyata terdapat perbedaan antara orang berduit banyak sama yang enggak dalam hal pengobatan. Hiks.

Setelah kemoterapi, bapak menjadi sering mual-mual dan juga muntah darah. Muntah darah sekali muntah bisa sekitar 2-3 gelas. Padahal sehari muntah bisa berkali-kali. Hingga seminggu setelah kemo pertama perut bapak tidak bisa dimasuki apapun, bahkan minum pun mual. Satu minggu di rumah sakit Prambanan kondisi tidak lekas membaik, akhirnya dirujuklah ke Sarjito. Sampai di IGD bapak langsung dipasang selang lewat hidung untuk mengeluarkan darah yang ada dilambungnya. 8 Oktober bapak dirujuk ke Sarjito, hingga tanggal 27 Oktober ini kami masih menginap di Sarjito.

Hingga saat saya menulis postingan ini, bapak sedang menjalani kemoterapi kedua. Setelah efek samping kemoterapi pertama berupa mual-mual ndak karuan hingga muntah darah plus rambut rontok, saya berharap kemoterapi kedua tidak menimbulkan efek samping yang lebih parah. Namun, belum ada setengah jam sejak botol kedua dipasang, bapak merasakan sesak nafas dan panas didadanya. Semoga selanjutnya semakin membaik ya, Pak! Biar cepat balik kerumah. :) Kangen nonton TV di rumah kan? haha

No comments

Left your words here. . Don't be silent reader ^^ comments are loveable

Powered by Blogger.